Oleh: Iswara Noor Raditya. JUNI 1965, Aljazair bersiap menghelat Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-II, dengan agenda pertemuan antarmenteri luar negeri dan antarkepala negara Dunia Ketiga. Kru Lembaga Berita Nasional (LKBN) ANTARA bersiap sejak sepekan sebelum perhelatan akbar itu. News bulletin-nya, Warta Berita Antara, yang terbit sejak 22 Juni 1965, sigap mencatat hari-hari menuju KAA I.
Warta Berita Antara edisi 26 Juni 1965 mencatat anggota-anggota delegasi Indonesia yang berangkat ke Aljazair, antara lain Presiden Soekarno, Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh, Menteri Agama Prof KH Saiffudin Zuchri, Menteri Koordinator/Wakil Ketua MPRS/Ketua Umum CC PKI DN Aidit, Wakil Ketua MPRS dan Ketua Umum PNI Ali Sastroamidjojo, Menko/Ketua Panitia Pembina Revolusi Dr Roeslan Abdoelgani, Menteri Negara Njoto, Menteri Perindustrian Maritim Mardanus, serta Anggota DPD AM Dasa’ad. Selama Presiden Soekarno ke luar negeri, pemerintahan akan dijalankan oleh Dr J Leimena sebagai pejabat presiden.
Warta Berita Antara edisi 27 Juni 1965 memuat pidato-pidato singkat para anggota delegasi itu. Pada pkoknya, semua orasi tersebut berisi pemantapan semangat bernafaskan nasionalis, agama, dan komunis (Nasakom), yang diikuti dengan himbuan anti neo-kolonialisme alias nekolim. Chaerul Saleh menyerukan agar rakyat Indonesia tetap memerkuat persatuan nasional progresif revolusioner yang berporoskan nasakom. Prof KH Saiffudin Zuchri yang mewakili golongan agamis, berkata, “Perdjuangan Indonesia serta konfontrasinja terhadap nekolim bagi kaum agama dianggap pula sebagai sumbangan bagi dunia baru!”
Ali Sastroamidjojo yang mengingatkan, segenap bangsa Indonesia harus memertinggi kesiagaan dalam menghadapi provokasi nekolim. DN Aidit tak mau ketinggalan dan menghimbau, “Agar kewaspadaan nasional diperketat, dan selalu siap siaga untuk mematahkan usaha kontra revolusioner yang biasanya mengambil kesempatan pada waktu Bung Karno tidak berada di dalam negeri!”
Namun, sore harinya tersiar kabar bahwa terjadi ledakan bom di Club des Pines, gedung tempat konferensi, sekitar 20 kilometer dari ibukota Aljazair. Warta Berita Antara melaporkan, 5 orang tewas dan 8 lainnya mengalami luka-luka. Keesokan harinya, Warta Berita Antara edisi pagi 28 Juni 1965 memberitakan, atas beberapa delegai meminta penundaan pelaksanaan KAA II. Kemudian diputuskan bahwa konferensi tingkat menteri luar negeri diundur hingga 28 Oktober 1965, sedangkan level kepala negara ditunda sampai 5 Nopember 1965.
Laporan Warta Berita Antara tentang perhelatan itu diturunkan dengan rinci dan kontinyu selama beberapa hari. Warta Berita Antara saat itu terbit dua kali sehari, pagi dan sore. Terbit pagi diberi kode “A” sedangkan edisi sore berkode “B”. Diterbitkan perdana pada 1 Januari 1965, Warta Berita Antara adalah suratkabar berbentuk buletin, yang dicetak juga dalam edisi bahasa Inggris dengan nama Antara News Bulettin. Media ini beredar dengan izin Keputusan Menteri Penerangan RI tertanggal 4 Juli 1963.
Suratkabar ini dicetak dan diterbitkan oleh (LKBN) ANTARA. Dewan Pimpinan ANTARA yang tercantum pada halaman sampulnya antara lain Pandu Kartawiguna (Ketua), Moh Nahar (Wakil Ketua I dan Pemimpin Bagian Redaksi), Supeno (Wakil Ketua II/Pengusahaan), Subanto Taif (Sekretaris Umum), D Adinegoro (Research dan Dokumentasi), Mashud Sosrojudho (Hubungan Luar Negeri), Suhandar (Telekomunikasi), Zein Effendi SM (Komersil), Suroto (Redaksi Dalam Negeri), Walujo (Pentjarian Berita), serta trio Subakir, R Moeljono, dan HIM Arifin (Organisasi dan Administrasi). Pada pertengahan 1965, posisi Zein Effendi SM (Komersil) dinyatakan non-aktif.
Sedangkan Presidium Dewan Redaksinya terdiri dari Suroto sebagai Ketua, Moh Nahar Mashud sebagai Wakil Ketua, serta anggota Mashud Sosrojudho dan Walujo. Alamat redaksi Warta Berita Antara Jalan Antara, No 53, 57, dan 59, Jakarta, Kotak Pos 2086. Edisi-edisi awal buletin harian ini tampil sederhana, diketik manual dan sangat padat tulisan, tanpa ilustrasi gambar maupun foto.
Menjadi anak emas institusi berita nasional membuat Warta Berita Antara didaulat sebagai biangnya pusat informasi paling resmi dan terlengkap di seantero tanahair. Suratkabar ini didapuk menjadi sentral acuan media-media lain di seluruh pelosok nusantara. Tak sembarangan orang bisa mengutip, menampilkan, bahkan memublikasikan tulisan-tulisan yang ada di Warta Berita Antara, harus ada ijin untuk itu. Maka tak heran jika suratkabar ini mencantumkan sepenggal maklumat yang termaktub pada sampul depannya yang berbunyi: “hanja boleh disiarkan dengan persetudjuan.”
LKBN ANTARA sendiri pada awalnya bernama Naamloze Vennootschap (NV) Kantor Berita ANTARA, yang didirikan pada 13 Desember 1937 oleh Adam Malik, Sumanang Suryowinoto, AM Sipahutar, Pandu Kartawaguna, dan lain-lainnya. Pada 1962, ANTARA resmi menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional yang berada langsung di bawah Presiden RI.
Sebagai salah satu produk lembaga berita pemerintah, Warta Berita Antara di masa-masa awalnya adalah penyuara maklumat Presiden Soekarno dan segenap elemen pemerintahannya, kendati fenomena ini sudah cukup lazim -bahkan “wajib”- dilakukan media-media pers kala itu. Di tiap-tiap edisinya, pasti ada beberapa halaman bernama “Adjaran Pemimpin Besar Bung Karno” yang berisi petuah-petuah dari Presiden.
Para awak Warta Berita Antara harus bekerja ekstra keras karena kala terbitnya yang padat dan selalu harus up to date. Apalagi buletin ini tampil dengan 52 halaman. Rubrik utama yang bertajuk “Dalam Negeri” mengupas peristiwa-peristiwa aktual, dari politik, pemerintahan hingga sosial kemasyarakatan. Lalu ada ruang “Ekonomi dan Keuangan” yang mengulas masalah-masalah ekonomi. Rubrik “Olah Raga dan Krida” menyajikan info-info olahraga di lingkup daerah, nasional, bahkan mancanegara. Sebagai penutup, terdapat rubrik “Luar Negeri”. Di edisi perdananya, Warta Berita Antara sudah menugaskan seorang wartawannya, Saleh B Bawazyr, di Kairo, Mesir.
Ada kalanya Warta Berita Antara memuat rubrik “Kebudajaan”, yang berisikan segala hal tentang seni, sastra, dan budaya. Pada edisi 30 Juni 1965, misalnya, buletin ini memuat berita ditangkapnya dua pemimpin grup band Koes Bersaudara yang dipersalahkan lantaran menyanyikan lagu-lagu The Beatles. Diberitakan, “Dirjen RRI, Sukirman, menjatakan betapa tepatnja diambil tindakan drastis dan kalau perlu didjatuhkan vonnis sebagai subsersif kepada mereka jang memainkan lagu2 ngak-ngik-ngok!”
Sukirman melanjutkan, “Pada hakekatnja dibelakang anak2 muda jang bermain ala Beatles terdapat golongan2 dan orang2 tertentu jang sengadja mentjari keuntungan serta sengadja menjebarkan ratjun kebudajaan Barat untuk merusak moral anak2 kita.” Masa-masa itu memang sangat peka terhadap aroma Barat sebagai ancaman nekolim. Warta Berita Antara mau tak mau harus ikut mencebur ke dalamnya kendati tak hendak mengingkari kodratnya sebagai pencatat hari-hari NKRI. (Iswara N Raditya)
Minggu, Agustus 02, 2009
Militansi ANTARA untuk Bangsa
Militansi ANTARA untuk Bangsa
2009-08-02T15:28:00+07:00
sherlomes
Iswara|Jurnalistik|Pers|