Kamis, Oktober 22, 2009

Imajinasi Sejarah: Penyatuan Serpihan Materi Peristiwa

Menulis sejarah merupakan suatu kegiatan intelektual dan ini suatu cara yang utama untuk memahami sejarah (Paul Veyne, 1971:71; Tosh, 1985:94).

Apakah itu imajinasi? Apakah sejarah memerlukan imajinasi dalam penulisannya? Tidak takutkah bila imajinasi tersebut dapat berkembang menjadi sebuah fiksi? Bagaimana cara membatasi sebuah imajiasi dalam penulisan sejarah? Mungkinkah imajinasi tersebut nantinya menjadi sebuah imajinasi yang cukup obyektif?

Pertanyaan-pertanyaan seperti tertulis di atas kadangkala “menggelitik” para sejarawan dalam menerapkan metode penelitian sejarahnya. Memang, imajinasi yang berlebihan dapat menjadikan obyek yang di-imajinasikan bisa jauh dari keadaan yang sebenarnya. Maka dari itu, dibutuhkan suatu pembatasan yang jelas tentang peng-interpretasi-an imajinasi tersebut.

Menurut Kuntowijoyo, seorang sejarawan, dalam pekerjaannya harus dapat membayangkan apa yang sebenarnya, apa yang sedang terjadi, dan apa yang terjadi sesudahnya (Kuntowijoyo, 2001:70). Dalam kasus seperti ini, batasan yang dipakai sangat jelas. Pembatasan yang seharusnya dilakukan adalah, membatasi imajinasi yang berkembang khusus pada keadaan yang sebenarnya terjadi. Jadi jika imajinasi yang berkembang menjadi meng-interpretasi-kan keadaan yang bukan sebenarnya terjadi, maka telah terjadi manipulasi peristiwa yang sebenarnya.

Imajinasi dalam Sejarah dan Imajiasi dalam interpretasi Fiksi 

Imajinasi dalam sejarah dan imajinasi dalam interpretasi fiksi sangat beda. Oleh karena itu, di sini penting memilah antara imajinasi sejarah dan imajinasi fiksi. Imajinasi sejarah merupakan imajinasi yang dilakukan seorang sejarawan atau seorang sumber sejarah dalam mengungkap sebuah peristiwa sesuai dengan keadaan yang sebenarnya terjadi. Imajinasi fiksi (seperti sastra atau ruang lingkup fiksi lainnya) secara singkat dapat dikatakan sebagai pengungkapan imajinasi yang terus berkembang tanpa batas yang jelas. 

Walau dalam novel sejarah, ada beberapa kasus sejarah yang berusaha ditampilkan atau minimal sebagai bahan “pembangkit” awal masalah atau mungkin “hanya” sebagai pendahuluan yang dikonstruksi sebagai jalan masuk ke dalam cerita (latar belakang peristiwa atau tempat atau bahkan sebagai pendahuluan), tetapi sebagian besar cerita dalam novel tersebut telah “tercemar” dengan faktor imajinasi sang penulis. Untuk itu perlu ditegaskan di sini bahwa imajinasi sejarah dan imajinasi fiksi merupakan dua hal yang beda.

Sebagai contoh, dalam imajinasi sejarah, seorang sejarawan harus mampu untuk ber-imajinasi tentang sejarah yang akan digalinya. Misalnya, dalam Perang Aceh, ia (sejarawan) harus mampu berimajinasi mengenai pantai, hutan, desa, meunasah, istana, mesjid, dan bukit-bukit. Mungkin ia akan bisa memahami Teuku Umar melalui pemahaman imajinernya tentang pantai, erlawanan Tjoet Nyak Dhien melalui hutannya, dan penyebaran cita-cita perang Sabil lewat imajinasinya tentang desa, meunasah, dan mesjid (Kuntowijoyo, 2001:70).

Tuntutan dalam Interpretasi Sejarah

Petualangan yang menguntungkan dalam penelitian sejarah hanya dapat kita memulainya bila mengidentifikasikan suatu masalah yang membingungkan dan kemudian merumuskannya dengan benar (Consuelo G. Sevilla et.al.:63). Dalam kasus ini, seorang sejarawan dituntut untuk dapat meng-interpretasi-kan sebuah masalah dengan cukup obyektif, sesuai dengan materi yang sebenarnya. Di sinilah imajinasi dalam sejarah diperlukan. Sebuah imajinasi dengan batasan keadaan yang sebenarnya. Penggunaan imajinasi dalam interpretasi dan eksplanasi menjadi mutlak disaat kasus yang sulit menjadi penghalang dalam meng-interpretasikan masalah yang dihadapi.

Selain batasan tersebut diatas, faktor continuitas dan akronisme menjadi faktor yang harus diperhatikan. Kesinambungan dan urutan waktu dalam interpretasi maupun ekplanasi menjadi hal yang wajib ditaati agar tidak terjadi fallacies (kesalahan-kesalahan dalam penulisan). Sangat lucu jika fakta yang kita rangkai tidak sinambung dan urutan waktunya berloncatan. Maka tuntutan seorang sejarawan dalam meramu fakta secara continuitas dan akronisme, sangat mutlak dilakukan. Hal ini untuk menghindari kerancuan dalam sejarah dan sebagai landasan yang kuat dalam menerima serbuan kritik. 

(Tunggul Tauladan, Alumni Ilmu Sejarah Angkatan 2002. Kini bekerja sebagai redaktur di MelayuOnline.com).

Referensi

Consuelo G. Sevilla et.al. Pengantar Metodologi Penelitian. UIP.

Helius Sjamsudin. 1994. Metodologi Sejarah, Departeman P & K, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Jakarta: Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.

Kuntowijoyo. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.
READ MORE - Imajinasi Sejarah: Penyatuan Serpihan Materi Peristiwa

Eksplanasi: Pengejawantahan Data dan Fakta dalam Penulisan Sejarah

Eksplanasi sering dikenal dengan istilah penjelasan dalam setiap kajian ilmiah. Menurut D. H Fischer, kata eksplanasi sendiri berasal dari explain atau penjelasan; eksplanasi berarti membuat terang, jelas dan dapat dimengerti. Dalam eksplanasi data, fakta maupun fakta sejarah memegang peranan yang sangat penting. Data dan fakta ini berguna bagi pen-diskripsian kerangka wacana dalam eksplanasi. 

Penjelasan yang dilakukan dalam eksplanasi memungkinkan para pembacanya untuk memahami dan mengerti akan maksud yang terkandung dalam penjabaran tersebut. Dalam suatu peristiwa sejarah, hendaklah bisa ditunjukkan unsur-unsur wujud peristiwa (what), pelakunya (who), tempat terjadinya peristiwa (where), waktu kejadian (when), unsur mengapa atau latar belakang kejadian (why) dan akhirnya pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut bagaimana mungkin peristiwa itu bisa terjadi (how). 

Dengan sendirinya, penjelasan yang menyangkut why (mengapa) dan how (bagaimana) terutama menjadi perhatian penting dalam keterangan sejarah, sebab di sinilah kekhususan ciri-ciri sejarah itu bisa dilihat. Seperti halnya dalam jurnalisme yang sangat menekankan 5 W + 1 H, maka begitupula eksplanasi dalam sejarah menerapkannya. Dalam melakukan eksplanasi, semua ilmu bisa digunakan, baik itu mengambil dari ilmu sosial, maupun dari ilmu sejarah itu sendiri. Demikian pula dengan imajinasi dan logika. Semuanya berperan besar dalam proses eksplanasi tersebut.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam eksplanasi inipun seorang sejarawan akan “berpetualang” kembali dalam lautan imajinasinya. Tanpa “petualangan” tersebut, dapat dipastikan banyak hal yang tidak bisa dituliskan, apalagi diterangkan. Seperti yang dinyatakan oleh Collingwood, yang menekankan keistimewaan yang bisa dilakukan oleh sejarawan terhadap objeknya dibandingkan yang hanya mampu dilakukan oleh scientist, yaitu dengan jalan ”re thinking them in his own mind”, (memikirkan kembali dalam pemikiran sejarawan sendiri). Dengan maksud bahwa sejarawan mampu menerobos alam pikiran pelaku sejarah secara imajiner, mencoba menempatkan dirinya ke dalam alam pikiran para pelaku sejarah yang bersangkutan. Ini dianggap merupakan unsur pokok ke dalam “cara berfikir historis” (historical thinking) yang menjadi dasar “cara menerangkan dalam sejarah” (historical eksplanation).

Dalam eksplanasi ini dapat dilihat adanya manfaat dari kematangan seorang sejarawan untuk dapat merangkai semua data dan fakta yang diperolehnya untuk menjadikan sebuah penulisan. Dalam eksplanasi inipun akan jelas terlihat bagaimana tingkat kreatifitas sejarawan dalam membuka wacana para pembacanya. Penjelasan yang baku seringkali ditingggalkan oleh para pembacanya. Sedang penjelasan yang ringan tapi berbobot menjadikan para pembacanya seolah-oleh enggan untuk meninggalkan bahan bacaan yang dibacanya. Di sinilah ajang pembuktian keahlian seorang sejarawan dapat dibuktikan.  

(Tunggul Tauladan, Alumni Ilmu Sejarah Angkatan 2002. Kini bekerja sebagai redaktur di MelayuOnline.com).

Referensi:

Kuntowijoyo. 1997. Metodologi Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.

Helius Syamsuddin. 1996. Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Depdikbud.

READ MORE - Eksplanasi: Pengejawantahan Data dan Fakta dalam Penulisan Sejarah

Relativisme Sejarah: Bukan Harga Mati

Moral dan keyakinan merupakan hasil dari ruang dan waktu tertentu, dan karenanya tidak ada yang bisa disebut “benar” atau “salah”  
Sebuah ungkapan yang hampir mirip dengan obyektifitas dan subyektifitas dalam sejarah. Sudah sejak lama disiplin ilmu sejarah dipertanyakan tingkat keabsahannya. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena peristiwa sejarah bersifat einmaligh, dan peristiwa tersebut tidak dapat direkonstruksi secara benar-benar serupa dengan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Banyak faktor yang memengaruhi sebuah peristiwa tidak dapat direkonstruksi sesuai dengan yang asli. Faktor waktu, tempat, keadaan, lingkungan dan segudang faktor yang lainnya adalah hal-hal yang membuat mengapa sebuah peristiwa sejarah tidak dapat diulang sama persis dengan yang aslinya
Esensi ‘benar” dan “salah” bukan harga mati, karena “benar” dan “salah” bukan tujuan utama penulisan sejarah. Sejarah hanya berusaha merekonstruksi sebuah peristiwa mendekati semaksimal mungkin dengan peristiwa yang terjadi. Perkara “benar” dan “salah” tergantung dari subyektifitas pembaca atau penikmat karya sejarah tersebut. Sudut pandang pembaca atau penikmat adalah faktor utama yang membuat pengkategorian karya tersebut “benar” atau “salah”. Penempatan sudut pandang dalam menilai suatu peristiwa inilah yang membuat banyak ungkapan tentang esensi “benar” dan “salah.
Seperti kasus subyektifitas berikut: [Jika] s dan s’ mempunyai makna yang sama, maka apapun kondisi –kondisi yang membuat benar akan [selalu] membuat s’ benar. Sehingga tidak mengejutkan bahwa relativis cenderung untuk mengutamakan konsepsi-konsepsi holistic tentang kebenaran dan bermakna, yang membuat bagian semantik utama sesuatu yang lebih rumit daripada kalimat. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai relativis seseorang dengan orang lain akan berbeda. Hal ini terkait erat dengan unsur subyektifitas seperti yang tertera di atas. Tidak ada yang bisa menggugat ego seseorang. Ego yang timbul akan senantiasa mati-matian dipertahankan oleh orang yang melontarkan ego tersebut. Walaupun banyak orang berkilah akan tingkat kebesaran hatinya dalam menerima perbedaan atau kritikan, tetapi ego yang telah bermain di dalamnya walau kadang dipungkiri tapi tetap akan dipertahankan dan senantiasa bermain di dalamnya (dalam upaya mempertahankan argumen).

Unsur “benar’ dan “salah” dalam sejarah, bukan perkara “hitam” dan “putih” saja, tetapi lebih luas dari itu. Bagaimana cara menganalisa sebuah persoalan, minimal mendekati dengan pendekatan yang maksimal terhadap sebuah persoalan. Dalam pendekatannya, seorang sejarawan (dalam usaha penulisannya) akan berbenturan dengan berbagai kepentingannya. Pemihakan pribadi (personal bias), yaitu persoalan suka atau tidak suka pribadi terhadap individu atau golongan dari seseorang, prasangka kelompok (group prejudice) yaitu menyangkut keanggotaan sejarawan dalam suatu kelompok apakah itu bangsa, ras, kelompok sosial, atau agama tertentu, teori-teori penafsiran sejarah yang berbeda (Conflicting theories of historical interpretation) yaitu perbedaan penafsiran teori, misal sejarawan Marxis akan menulis berdasarkan teori determinisme ekonomi, konflik-konflik filsafat yang mendasar (underlying philosophical conflicts) yaitu kepercayaan moral atau pandangan hidup seseorang. Unsur-unsur seperti yang tertera diataslah yang menyebabkan penulisan sejarah tidak se-simple “hitam” dan “putih” saja atau “benar” dan “salah”.  

(Tunggul Tauladan, Alumni Ilmu Sejarah Angkatan 2002. Kini bekerja sebagai redaktur di MelayuOnline.com).

Referensi

Peter Levine. 2002. Nietzsche “Krisis Manusia Modern”. a.b Ahmad Sahidah, Yogyakarta: IRCiSoD.

Helius Sjamsuddin. Metodologi Sejarah. Departemen P & K. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik 

Roy Jackson. 2003. Friedrich Nietzsche. a.b. Abdul Mukhid. Yogyakarta: Bentang Budaya. 
READ MORE - Relativisme Sejarah: Bukan Harga Mati

Rabu, Agustus 12, 2009

Kerajaan Kaling atau Ho-ling (Kalingga)

Oleh Tunggul Tauladan et.al
 
Asal Mula penyebutan Ho-ling

Nama Ho-ling sebenarnya muncul ketika terjadi perubahan dengan mulai meluasnya kekuasaan Wangsa Sailendra. Sebelum perluasan ini, berita Cina dari Dinasti Sung Awal (420-470 M) menyebut Jawa dengan sebutan She-p’o, akan tetapi kemudian berita-berita Cina dari Dinasti T’ang (618-906 M) menyebut Jawa dengan sebutan Ho-ling sampai tahun 818. Namun penyebutan Jawa dengan She-p’o kembali muncul pada 820-856 M (Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1984:93).

Sumber sejarah

Nama Kerajaan Ho-ling sempat tercatat dalam kronik dinasti T’ang yang memerintah Cina pada 618-906 M. Menurut catatan kronik tersebut, penduduk Ho-ling biasa makan tanpa menggunakan sendok atau cupit, melainkan dengan jari-jari tangannya saja, dan gemar minum semacam tuak yang mereka buat dari getah bunga pohon kelapa (aren). Ibukota Kerajaan Ho-ling dikelilingi pagar dari kayu. Raja mendiami istana yang bertingkat dua yang beratapkan daun palma. Raja duduk di atas bangku yang terbuat dari gading, memergunakan juga tikar yang terbuat dari kulit bambu. Dicatat pula bahwa Ho-ling mempunyai sebuah bukit yang disebut Lang-pi-ya, yang sering dikunjungi raja untuk melihat laut (Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1978:50).

Mengenai Kerajaan Ho-ling, terdapat sumber lain selain kronik dari Dinasti Tang. Seorang pendeta Budha bernama I-tsing, menyatakan bahwa dalam tahun 664 M telah datang seorang pendeta bernama Hwi-Ning di Ho-ling, dan tinggal di situ selama 3 tahun. Dengan bantuan Pendeta Ho-ling, Jnanabhadra, ia menerjemahkan berbagai kitab suci agama Budha Hinayana (Soekmono, 1973:37).

Letak Kerajaan Ho-ling

Ada dua sumber Cina yang berasal dari Dinasti T’ang memberikan arahan tentang Kerajaan Ho-ling. Kedua versi tersebut yaitu berita Cina Ch’iu-tang dan Hsin T’ang Shu. Kedua versi tersebut memberitakan tentang Ho-ling sebagai berikut: “Ho-ling yang juga disebut She-p’o terletak di lautan selatan. Sebelah timurnya terletak P’o-li dan disebelah baratnya terletak To-p’o-teng. Di sebelah selatannya ialah lautan dan disebelah utaranya ialah Chen-la” (Marwati & Nugroho, 1984:93). 

Dalam berita-berita Tionghoa dari jaman pemerintahan raja-raja T’ang (618-906 M) ada disebut nama Kerajaan Kaling atau Ho-ling. Letaknya di Jawa Tengah. Tanahnya sangat kaya, dan di situ pula ada sumber air asin. Rakyatnya hidup makmur dan tentram (Soemono, 1973:36).

Sumber lain menyebutkan sebuah analisa berdasarkan sumber Cina. Prof. NJ Kroom berpendapat bahwa pada akhir abad ke VII ada sebuah ratu yang memegang tampuk pemerintahan. Prof. NJ Kroom menunjuk bahwa letak Kerajaan Ho-ling berlokasi di Jawa Tengah. (Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1978:50). Jika memadukan pendapat Prof. NJ. Kroom dan kronik dari dinasti T’ang yang menyebut bukit Lang-pi-ya untuk melihat laut, maka besar kemungkinan Ho-ling berada di sekitar pesisir atau di Jawa Tengah bagian pesisir utara. Penyelidikan Drs. Pitono menyimpulkan bahwa Kerajaan Ho-ling kemungkinan terletak antara Pudakpayung-Salatiga (Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1978:51).

Tentang Lang-pi-ya disebutkan oleh penulis Hsin-tang-su, bahwa di sana apabila pada pertengahan musim panas orang mendirikan gnomon setinggi 8 kaki, bayangannya akan jatuh di sebelah selatannya dan panjangnya dua kaki empat inci. Berdasarkan panjang bayangan yang jatuh dari tingginya gnomon tersebut, bisa dihitung bahwa letak Ho-ling berada pada 6˚ 8’ LU. Dilihat dari perkiraan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa letak Kerajaan Ho-ling tidak di Jawa. Akan tetapi penulis Hsin-tang-su tersebut telah membuat dua kekeliruan. Pertama, semestinya penghitungan bayangan dilakukan pada pertengan musin dingin. Kedua, jatuhnya bayangan ada di sebelah utaranya. Jika pembenaran ini bisa diterima, maka letak Ho-ling berada di 6 ˚ 8’ LS, jadi di pantai utara Pulau Jawa. Koreksi tersebut sesuai dengan lokalisasi Lang-pi-ya yang terletak di Desa Krapyak dekat Gunung Lasem (Marwati & Nugroho, 1984:95).
 
Koreksi tersebut dikuatkan dengan adanya seorang pendeta Budha bernama I-tsing yang menyatakan bahwa dalam tahun 664 M telah datang seorang pendeta bernama Hwi-Ning di Ho-ling, dan tinggal di situ selama 3 tahun. Dengan bantuan Pendeta Ho-ling, Jnanabhadra, ia menerjemahkan berbagai kitab suci agama Budha Hinayana (Soekmono, 1973:37). Dari bukti yang dibawa I-Tsing ini dapat ditarik kesimpulan bahwa di Jawa dalam tahun 664 M terdapat sebuah kerajaan yang menganut ajaran murni Budhis dan menjadi populer. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Kalingga yang terletak di Jawa Tengah (kira-kira di wilayah Kecamatan Keling Kelep, Kabupaten Jepara sekarang ini) (http://www.dhammacakka.or.id/). Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa Kerajaan Ho-ling merupakan cikal bakal Jepara. (http://www.suaramerdeka.com/).

Tentang Ratu Shimo (pemerintahan)

Pada 674-675 M (tepatnya tahun 674 M) rakyat Ho-ling memilih dan mengangkat seorang ratu bernama Si-mo. Konon ratu ini memerintah dengan sangat kerasnya, namun bijaksana sehingga Ho-ling menjadi negara yang aman.

Pemerintahan Ratu Si-mo ditandai oleh terlaksananya pemerintahan dengan segala disiplin tinggi. Peraturan ditegakkan dengan sebenar-benarnya. Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang ketat dan disiplinnya pemerintahan di Kerajaan Ho-ling. Ada seorang raja yang bermaksud untuk menyerang Ho-ling. Dia terlebih dulu mencoba mengamati situasi Kerajaan Ho-ling dengan cara meletakkan pundi-pundi uang emas di tengah jalan. Konon warga Ho-ling terkenal dengan kejujurannya, bahkan barang-barang yang terjatuh tidak ada yang berani untuk mengambilnya. Raja tersebut bernama Ta-shih. Selama 3 tahun barang tersebut aman di jalan dan secara tidak sengaja putra mahkota menginjak barang tersebut. Maka ratu memerintahkan untuk menghukum mati putra mahkota, tetapi para menteri mohon ampun padanya dan keputusan diubah dengan memotong kakinya, karena kakinya yang bersalah. Tak berhenti sampai di situ saja, para menteri juga memohon ampun lagi sehingga hanya jari-jari kakinya saja yang dipotong. Mengetahui hal itu, raja Ta-shih mengurungkan niatnya utnuk menyerang Kerajaan Ho-ling.

Raja tinggal di kota She-p’o. Tetapi leluhurnya yang bernama Ki-yen telah memindahkan pusat kerajaan ke timur, ke kota P’o-lu-Chia-ssu. Di sekeliling She-p’o terdapat 28 kerajaan kecil yang tunduk pada She-p’o. Menurut berita dari Ying-huan-tche-lio, perpindahan tersebut terjadi pada masa T’ien-pao tahun 742-755 M (Marwati & Nugroho, 1984:95).
 
Mata pencaharian
 
Kerajaan Ho-ling mempunyai hasil bumiberupa kulit penyu, emas dan perak, cula badak dan gading. Ada sebuah gua yang selalu mengeluarkan air garam yang disebut sebagai bledug. Penduduk menghasilkan garam dengan memanfaatkan sumber air garam yang disebut sebagai bledug tersebut. 

Keagamaan

Salah satu sumber yang berbicara tentang keagamaan Kerajaan Ho-ling adalah sumber Cina yang berasal dari catatan perjalanan I-tsing, seorang pendeta agama Budha dari Cina dan kronik Dinasti Sung. Dikatakan bahwa pada 664-667 M, pendeta Budha Cina bernama Hwu-ning dengan pembantunya Yun-ki datang ke Ho-ling. Di sana kedua pendeta tersebut bersama-sama dengan Joh-na po-t’o-lo menerjemahkan Kitab Budha bagian Nirwana. Terjemahan inilah yang dibawa pulang ke Cina. Menurut I-tsing, Kitab suci Budha yang diterjemahkan tersebut sangat berbeda dengan kitab Suci Budha Mahayana. Menurut catatan Dinasti Sung yang memerintah setelah Dinasti T’ang, terbukti bahwa terjemahan yang diterjemahkan Hwu-Ning dengan Yun-ki bersama dengan Njnanabhdra itu adalah kitab Nirwana bagian akhir yang menceritakan tentang pembakaran jenazah sang Budha, dengan sisa tulang yang tidak habis terbakar dikumpulkan untuk dijadikan relik suci. Dengan demikian jelas bahwa Ho-ling tidak menganut agama Budha aliran Mahayana, tetapi menganut agama Budha Hinayana aliran Mulasarastiwada. Kronik Dinasti Sung juga menyebutkan bahwa yang memimpin dan mentahbiskan Yun-ki menjadi pendeta Budha adalah Njnanabhadra. (Marwati & Nugroho, 1984:51).

Hubungan dengan negeri luar

Pada masa Chen-kuang (627-649 M) raja Ho-ling bersama dengan raja To-ho-lo To-p’o-teng, menyerahkan upeti ke Cina. Kaisar Cina mengirimkan balasan yang dengan dibubuhi cap kerajaan dan raja To-ho-lo meminta kuda-kuda yang terbaik dan dikabulkan oleh kaisar Cina. Kemudian Kerajaan Ho-ling mengirimkan utusan (upeti lagi) pada 666 M, 767 M dan 768 M. Utusan yang datang pada 813 M (atau 815 M) datang dengan mempersembahkan empat budak sheng-chih (jenggi), burung kakatua, dan burung p’in-chiat (?) dan benda-benda lainnya. Kaisar amat berkenan hatinya sehingga memberikan gelar kehormatan kepada utusan tersebut. Utusan itu mohon supaya gelar tersebut diberikan saja kepada adiknya. Kaisar amat terkesan dengan sikap itu dan memberikan gelar kehormatan kepada keduanya. Sampai dengan tahun 813 M, Ho-ling masih mengirim utusan ke negeri Cina dengan membawa “hadiah” berupa empat orang budak Sen-ki, burung kakatua, dan sejumlah jenis burung lainnya (Marwati & Nugroho, 1984: 94). 

(Tunggul Tauladan, Alumni Ilmu Sejarah Angkatan 2002. Kini bekerja sebagai redaktur di MelayuOnline.com).

Referensi:
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia 2. Jakarta: Balai Pustaka.

Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1978. Sejarah Daerah Jawa Tengah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah.

Ringkasan 4, Diskusi Dhamma (28/09/2002) Oleh: Bhikkhu Dhammasubho Thera. Mengungkap Budaya Buddhisme di Nusantara (1): Masa Keemasan Majapahit. Tersedia di http://www.dhammacakka.or.id/mahasati/diskusidhamma/dd-020928.htm

Soekmono. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.

SUARA MERDEKA, Selasa, 12 Agustus 2003 http://www.suaramerdeka.com/harian/0308/12/nas21.htm


READ MORE - Kerajaan Kaling atau Ho-ling (Kalingga)

Kamis, Agustus 06, 2009

Keramik Dinasti Ming Ditemukan di Karimunjawa

Karimunjawa, Jawa Tengah - Tim peneliti Underwater Archaeology dari Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian di dasar laut Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, pada 22 Juli-2 Agustus 2009 Dari hasil penelitian mereka di perairan Pulau Genting dan Pulau Seruni yang terletak 1,5 jam perjalanan dengan perahu kayu dari Pulau Karimunjawa (sekitar 83 km barat laut Jepara), tim itu menemukan ratusan hingga ribuan pecahan keramik kuno yang diperkirakan dari masa Dinasti Ming, Kekaisaran Tiongkok. “Itu menunjukkan bahwa perairan Karimunjawa merupakan jalur pelayaran niaga pada masa lalu,” ujar Ketua Tim Peneliti Priyatno Hadi Sulistyarto.

Rombongan tim itu meninggalkan Karimunjawa pada Minggu (2/8) menggunakan Kapal Cepat Kartini. Priyatno Hadi menjelaskan, dari hasil penelitian sementara pecahan keramik yang ditemukan tim di hamparan dasar laut dengan radius 50 meter itu bercirikan motif warna putih dan biru. Ada motif gambar bunga dan satwa. “Namun gambar-gambar itu tidak begitu detail. Seperti asal menggambar saja. Itu menunjukkan keramik tersebut dibuat secara masal dalam jumlah sangat banyak. Ini salah satu ciri produk keramik Dinasti Ming. Keramik itu berupa piring, cepuk, dan mangkuk,” jelasnya.

Kepastian bahwa keramik itu adalah produk massal juga bisa dilihat dari pantat keramik yang masih menyisakan tempelan pasir. Itu artinya dalam proses penjemuran awal sebelum dibakar, keramik tersebut dihamparkan di tanah berpasir sehingga pasir-pasir itu menempel pada pantat keramik yang basah. Dinasti Ming memerintah Tiongkok pada abad 13-16 Masehi.

Ketika tim peneliti menemukan artefak (pecahan) keramik di dasar laut, kondisinya sudah tertempel oleh tumbuhan laut. Banyak di antaranya bahkan sudah terbenam di pasir dan lumpur, dan ada juga yang sudah tertutup tumbuhan laut. Seluruh temuan sudah tidak jelas warnanya karena sudah tertempeli semacam kerak-kerak karang laut.

Pertama Kali di Indonesia

Penelitian arkeologis di dasar laut adalah penelitian yang baru pertama kali digelar di Indonesia. Sebenarnya banyak keramik kuno dan kapal karam kuno yang ditemukan dan kemudian diangkat ke permukaan. Namun, temuan-temuan itu dalam bentuk pengangkatan untuk mencari harta karun, sedangkan keramik-keramik kuno itu kemudian diperjual-belikan hingga ke luar negeri.

“Di sini kami tidak mengangkat harta karun. Bahkan kami tidak mencari keramik yang utuh. Sebuah kepingan keramik bagi kami sudah cukup untuk bisa menceritakan apa saja. Keramik itu dari mana, dibuat pada masa apa, siapa yang membawanya, untuk apa, mengapa sampai di Karimunjawa, dan sebagainya. Sejarah peradaban manusia masa lalu bisa kami lihat dari temuan itu,” tutur Priyatno Hadi.

Patung Buddha

Keputusan untuk melakukan penyelaman di titik itu karena tim mendapatkan keterangan dari nelayan setempat yang telah memperoleh temuan gentong-gentong tanah liat, mangkuk, hingga patung Buddha tanpa kepala yang tersangkut jaring nelayan. Gentong-gentong itu oleh nelayan setempat dijadikan penampung air untuk wudu (padasan).

Mulyadi, Karyadi, Karmin, maupun Mamat adalah nelayan setempat yang bisa menceritakan temuan mereka. Di rumah Mulyadi ada gentong tanah liat yang digeletakkan begitu saja di sudut rumah di dekat kandang ternak, sementara di rumah Mamat ada gentong yang dijadikan padasan.
Riris Purbasari dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah menjelaskan, dari seluruh benda yang ditemukan penduduk diperkirakan telah terjadi barter antara penduduk lokal dan pendatang dari daratan China pada masa lalu. Pedagang dari China membawa keramik kemudian ditukar dengan produk lokal yang terbuat dari gerabah tanah liat. “Barter barang dalam perdagangan masa lalu sudah biasa terjadi,” kata Riris. (Su Herdjoko)

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/
READ MORE - Keramik Dinasti Ming Ditemukan di Karimunjawa

Minggu, Agustus 02, 2009

Militansi ANTARA untuk Bangsa

Oleh: Iswara Noor Raditya. JUNI 1965, Aljazair bersiap menghelat Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-II, dengan agenda pertemuan antarmenteri luar negeri dan antarkepala negara Dunia Ketiga. Kru Lembaga Berita Nasional (LKBN) ANTARA bersiap sejak sepekan sebelum perhelatan akbar itu. News bulletin-nya, Warta Berita Antara, yang terbit sejak 22 Juni 1965, sigap mencatat hari-hari menuju KAA I.

Warta Berita Antara edisi 26 Juni 1965 mencatat anggota-anggota delegasi Indonesia yang berangkat ke Aljazair, antara lain Presiden Soekarno, Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh, Menteri Agama Prof KH Saiffudin Zuchri, Menteri Koordinator/Wakil Ketua MPRS/Ketua Umum CC PKI DN Aidit, Wakil Ketua MPRS dan Ketua Umum PNI Ali Sastroamidjojo, Menko/Ketua Panitia Pembina Revolusi Dr Roeslan Abdoelgani, Menteri Negara Njoto, Menteri Perindustrian Maritim Mardanus, serta Anggota DPD AM Dasa’ad. Selama Presiden Soekarno ke luar negeri, pemerintahan akan dijalankan oleh Dr J Leimena sebagai pejabat presiden.

Warta Berita Antara edisi 27 Juni 1965 memuat pidato-pidato singkat para anggota delegasi itu. Pada pkoknya, semua orasi tersebut berisi pemantapan semangat bernafaskan nasionalis, agama, dan komunis (Nasakom), yang diikuti dengan himbuan anti neo-kolonialisme alias nekolim. Chaerul Saleh menyerukan agar rakyat Indonesia tetap memerkuat persatuan nasional progresif revolusioner yang berporoskan nasakom. Prof KH Saiffudin Zuchri yang mewakili golongan agamis, berkata, “Perdjuangan Indonesia serta konfontrasinja terhadap nekolim bagi kaum agama dianggap pula sebagai sumbangan bagi dunia baru!”

Ali Sastroamidjojo yang mengingatkan, segenap bangsa Indonesia harus memertinggi kesiagaan dalam menghadapi provokasi nekolim. DN Aidit tak mau ketinggalan dan menghimbau, “Agar kewaspadaan nasional diperketat, dan selalu siap siaga untuk mematahkan usaha kontra revolusioner yang biasanya mengambil kesempatan pada waktu Bung Karno tidak berada di dalam negeri!”

Namun, sore harinya tersiar kabar bahwa terjadi ledakan bom di Club des Pines, gedung tempat konferensi, sekitar 20 kilometer dari ibukota Aljazair. Warta Berita Antara melaporkan, 5 orang tewas dan 8 lainnya mengalami luka-luka. Keesokan harinya, Warta Berita Antara edisi pagi 28 Juni 1965 memberitakan, atas beberapa delegai meminta penundaan pelaksanaan KAA II. Kemudian diputuskan bahwa konferensi tingkat menteri luar negeri diundur hingga 28 Oktober 1965, sedangkan level kepala negara ditunda sampai 5 Nopember 1965.

Laporan Warta Berita Antara tentang perhelatan itu diturunkan dengan rinci dan kontinyu selama beberapa hari. Warta Berita Antara saat itu terbit dua kali sehari, pagi dan sore. Terbit pagi diberi kode “A” sedangkan edisi sore berkode “B”. Diterbitkan perdana pada 1 Januari 1965, Warta Berita Antara adalah suratkabar berbentuk buletin, yang dicetak juga dalam edisi bahasa Inggris dengan nama Antara News Bulettin. Media ini beredar dengan izin Keputusan Menteri Penerangan RI tertanggal 4 Juli 1963.

Suratkabar ini dicetak dan diterbitkan oleh (LKBN) ANTARA. Dewan Pimpinan ANTARA yang tercantum pada halaman sampulnya antara lain Pandu Kartawiguna (Ketua), Moh Nahar (Wakil Ketua I dan Pemimpin Bagian Redaksi), Supeno (Wakil Ketua II/Pengusahaan), Subanto Taif (Sekretaris Umum), D Adinegoro (Research dan Dokumentasi), Mashud Sosrojudho (Hubungan Luar Negeri), Suhandar (Telekomunikasi), Zein Effendi SM (Komersil), Suroto (Redaksi Dalam Negeri), Walujo (Pentjarian Berita), serta trio Subakir, R Moeljono, dan HIM Arifin (Organisasi dan Administrasi). Pada pertengahan 1965, posisi Zein Effendi SM (Komersil) dinyatakan non-aktif.

Sedangkan Presidium Dewan Redaksinya terdiri dari Suroto sebagai Ketua, Moh Nahar Mashud sebagai Wakil Ketua, serta anggota Mashud Sosrojudho dan Walujo. Alamat redaksi Warta Berita Antara Jalan Antara, No 53, 57, dan 59, Jakarta, Kotak Pos 2086. Edisi-edisi awal buletin harian ini tampil sederhana, diketik manual dan sangat padat tulisan, tanpa ilustrasi gambar maupun foto.

Menjadi anak emas institusi berita nasional membuat Warta Berita Antara didaulat sebagai biangnya pusat informasi paling resmi dan terlengkap di seantero tanahair. Suratkabar ini didapuk menjadi sentral acuan media-media lain di seluruh pelosok nusantara. Tak sembarangan orang bisa mengutip, menampilkan, bahkan memublikasikan tulisan-tulisan yang ada di Warta Berita Antara, harus ada ijin untuk itu. Maka tak heran jika suratkabar ini mencantumkan sepenggal maklumat yang termaktub pada sampul depannya yang berbunyi: “hanja boleh disiarkan dengan persetudjuan.”

LKBN ANTARA sendiri pada awalnya bernama Naamloze Vennootschap (NV) Kantor Berita ANTARA, yang didirikan pada 13 Desember 1937 oleh Adam Malik, Sumanang Suryowinoto, AM Sipahutar, Pandu Kartawaguna, dan lain-lainnya. Pada 1962, ANTARA resmi menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional yang berada langsung di bawah Presiden RI.

Sebagai salah satu produk lembaga berita pemerintah, Warta Berita Antara di masa-masa awalnya adalah penyuara maklumat Presiden Soekarno dan segenap elemen pemerintahannya, kendati fenomena ini sudah cukup lazim -bahkan “wajib”- dilakukan media-media pers kala itu. Di tiap-tiap edisinya, pasti ada beberapa halaman bernama “Adjaran Pemimpin Besar Bung Karno” yang berisi petuah-petuah dari Presiden.

Para awak Warta Berita Antara harus bekerja ekstra keras karena kala terbitnya yang padat dan selalu harus up to date. Apalagi buletin ini tampil dengan 52 halaman. Rubrik utama yang bertajuk “Dalam Negeri” mengupas peristiwa-peristiwa aktual, dari politik, pemerintahan hingga sosial kemasyarakatan. Lalu ada ruang “Ekonomi dan Keuangan” yang mengulas masalah-masalah ekonomi. Rubrik “Olah Raga dan Krida” menyajikan info-info olahraga di lingkup daerah, nasional, bahkan mancanegara. Sebagai penutup, terdapat rubrik “Luar Negeri”. Di edisi perdananya, Warta Berita Antara sudah menugaskan seorang wartawannya, Saleh B Bawazyr, di Kairo, Mesir.

Ada kalanya Warta Berita Antara memuat rubrik “Kebudajaan”, yang berisikan segala hal tentang seni, sastra, dan budaya. Pada edisi 30 Juni 1965, misalnya, buletin ini memuat berita ditangkapnya dua pemimpin grup band Koes Bersaudara yang dipersalahkan lantaran menyanyikan lagu-lagu The Beatles. Diberitakan, “Dirjen RRI, Sukirman, menjatakan betapa tepatnja diambil tindakan drastis dan kalau perlu didjatuhkan vonnis sebagai subsersif kepada mereka jang memainkan lagu2 ngak-ngik-ngok!”

Sukirman melanjutkan, “Pada hakekatnja dibelakang anak2 muda jang bermain ala Beatles terdapat golongan2 dan orang2 tertentu jang sengadja mentjari keuntungan serta sengadja menjebarkan ratjun kebudajaan Barat untuk merusak moral anak2 kita.” Masa-masa itu memang sangat peka terhadap aroma Barat sebagai ancaman nekolim. Warta Berita Antara mau tak mau harus ikut mencebur ke dalamnya kendati tak hendak mengingkari kodratnya sebagai pencatat hari-hari NKRI. (Iswara N Raditya)
READ MORE - Militansi ANTARA untuk Bangsa

Restorasi Meiji, Antara tradisi dan modernisasi

Oleh: Oryza Aditama. Dilatarbelakangi jatuhnya Shogun Tokugawa (1868), dengan semboyan “datsu a nyuu ou” anak-anak muda Jepang belajar modernisasi Barat untuk membangun bangsanya yang telah kental akan tradisi. Mampukah modernisasi berjalan seiring dengan tradisi? Sebuah pertanyaan singkat yang terpaksa dijawab oleh ‘bangsa matahari’ini dengan darah!

Khasanah sejarah Jepang diawali dengan kelompok bangsa China daratan yang bermigrasi kedalam bentangan kepulauan pojok timur pasifik ini. Pada abad 9 kekaisaran bentukan kaum imigran ini mampu menaklukan suku pribumi ainu yang telah terlebih dahulu menempati wilayah mereka. Pemerintahan yang stabil pasca penaklukkan, telah membentuk mental-mental kaisar menjadi lemah, mereka lebih mementingkan kesenangan-kesenangan sesaat dari pada memikirkan bagaimana mengurus pemerintahan yang baik.

Daerah-daerah baru hasil ekspansi kekaisaran dikelola secara otonomi oleh para Seiitaishogun yang diangkat oleh kaisar. Pembentukan shogun pertama dilakukan oleh Kaisar Kammu, yang dibentuk guna memerintah daerah utara Honshu. Lemahnya pengaruh kaisar dalam pemerintahan, telah mengakibatkan para shogun yang berkuasa di daerah-daerah dapat berbuat semaunya sendiri. Memang dengan kemampuan militer mereka yang mumpuni dan jiwa samurainya, mereka mampu mengendalikan kawasan vasal masing-masing. Praktis pada era shogunate kaisar hanya mampu ‘berdaulat’ di kawasan Heian (Kyoto) dan sekitarnya. Terasa ironis memang, tapi kenyataan pahit ini memang harus diterima oleh para kaisar dalam belantika sejarah Jepang masa keshogunan.

Era shogunate
Keadaan kekaisaran yang bobobrok tadi, tambah lengkap dengan dibubarkannya tentara kekaisaran. Pelan tapi pasti kawasan luar Kyoto telah tumbuh dengan pesat. Bahkan dapat dikatakan bahwa kemajuan kawasan yang dipimpin oleh para shogun beserta para samurainya ini telah jauh meninggalkan Heinan. Para pejuang ‘daerah’ ini bernafas dengan tradisi kedisiplinan yang teramat tinggi yang ditandai dengan lambang ikat kepala bushido telah memantikkan api persaingan antar shogun. Sudah dapat dipastikan jika pemerintah pusat hanya mampu melihat pasrah ketika para shogun mereka sibuk berebut kuasa kenegaraan.
Perebutan posisi toryo (puncak pimpinan shogun) pada umumnya didalangi oleh tiga keluarga besar dibelakang masing-masing kepentingan mereka. Adalah klan Taira, Minamoto dan Fujiwara, tiga sisi kekuatan besar yang saling bertikai pada awal masa keshogunan.

Akhir Pemberontakan Heiji (1160) telah mengangkat Taira no Kiyomori menjadi penasehat kaisar menggantikan Fujiwara yang berkuasa sebelumnya. Lewat jalan perkawinan kaisar dengan seorang gadis Taira telah memberikan alur tersendiri bagi era kekuasaan mereka. Pada masa ini praktis raja hanya sebagai simbol belaka. Dapat dikatakan bahwa kebijakan kekaisaran pada masa ini hanya berpangkal dari kepentingan klan Taira semata.

Ulah klan Taira ini serta merta mendapat respon negatif dari golongan Minamoto. Berpangkal dengan kemenangan pada Perang Gempei (1185), Minamoto no Yoritomo berhasil menggeser dominasi Taira. Pada tahun 1192 ia mendapat gelar Seii Taishogun (pemimpin militer) di Kyoto. Minamoto Yoritomo kemudian mendirikan markas besar di Kamakura, sedangkan kaisar tetap di Kyoto. Semuanya ini adalah permulaan dari kekuasaan feodal oleh keluarga samurai secara turun-temurun yang memerintah sampai kekuatan kekaisaran kembali berkuasa di tahun 1868.

Era pemerintahan feodal
Masa pemerintahan feodal dibagi menjadi lima periode utama. Periode Kamakura (1185-1333) menghadapi invasi tentara Mongol Kubilai Khan berkali-kali. Jepang berhasil menyingkirkan bangsa Mongol, walaupun awalnya mereka menemui banyak kesulitan oleh karena kurangnya persatuan dalam kalangan mereka sendiri selama ini. Periode ini juga ditandai dengan temuan model pedang baru oleh seorang pandai besi bernama Masamune. Namun kepemimpinan yang lemah pada periode ini telah mengurangi dukungan samurai (kelas pendekar).
Kaisar Go-Daigo mengawali Periode Muromachi (1333-1576) sampai pemberontakan pimpinan Ashikaga menyingkirkannya. Ashikaga dan keturunannya memerintah dengan kemampuan yang semakin memburuk dari waktu ke waktu. Jepang akhirnya tergelincir dalam perang sipil dan kekacauan.

Selama Periode Momoyama (1576-1600) ditandai oleh Oda Nobunaga. Ia adalah seorang bangsawan terkenal dari kawasan Nagoya dan salah satu cermin samurai yang luar biasa pada zaman Sengoku. Oda Nobunaga telah menciptakan organisasi dan taktik perang yang cukup maju. Berkat kebrilianan otaknya ia mampu menumbangkan era kesogunan Ashigaka. Bahkan ia mampu memaksa pasukan sami Budha yang terdiri dari kalangan sipil untuk meletakkan senjata. Oda Nobunaga tewas pada tahun 1582 di tangan Akechi Mitsuhide yang ironisnya adalah pengikutnya sendiri.

Pasca Oda Nobunaga laju pemerintahan ditentukan oleh Toyotomi Hideyoshi. Pengangkatan tampuk kepemimpinan dipegang oleh Hideyoshi, selepas ia mampu membalaskan penghianatan Mitsuhide dengan membunuhnya. Toyotomi Hideyoshi menjadi menteri utama pada tahun 1586. ia berasal dari kalangan keluarga petani miskin. Tindakannya yang paling monumental adalah menciptakan undang-undang yang menetapkan hanya kaum samurai yang boleh membawa senjata. Sangat penting disadari bahwa pada masa ini perbedaan antara samurai dan penduduk sipil amat tipis. Namun sampai abad 17 pertikaian antar klan samurai telah mengakibatkan sebagian samurai turun kasta menjadi penduduk biasa. Penyebaran agama Kristen selama era Kristen (1543-1640) pada mulanya bisa ditoleransi, namun kemudian ditekan karena dianggap sebagai ancaman. Asal tahu saja, bahwa pada masa ini pengaruh Eropa lewat perpanjangan tangan Portugis telah mampu menyentuh bangsa Jepang.

Selama Periode Tokugawa (1600-1867), Tokugawa Ieyasu mengalahkan keturunan muda Hideyoshi dan mendirikan markasnya di Edo (sekarang Tokyo). Kaisar masih memerintah dari Kyoto sedangkan keluarga Tokugawa membawa Jepang ke periode isolasi. Pada masa periode Tokugawa, golongan samurai secara berangsur menjadi bangsawan istana, kaki-tangan kerajaan. Daisho, pasangan pedang samurai yang pendek dan panjang (katana dan wakizashi) pelan-pelan berubah fungsi hanya sebagai simbolik semata. Pedang ini hanya sebagai lambang kekuasaan dan bukannya sebagai senjata yang melambangkan seorang samurai sejati, meskipun hak membunuh masih melekat pada diri setiap samurai. Satu lagi masalah pelik adalah banyaknya ronin (samurai tak bertuan) yang telah menjadi beban masyarakat.

Ketakutan era Tokugawa pada unsur asing telah membawa sebuah model isolasi yang teramat ketat dibanding periode sebelumnya. Rakyat Jepang dilarang pergi ke luar negeri dan berdagang dengan bangsa asing, sedangkan orang-orang asing diawasi dengan ketat. Penekanan kaku yang mengharuskan seseorang patuh tanpa syarat pada peraturan-peraturan mengenai ketaatan dan kesetiaan. Tak dapat dipungkiri memang jika para samurai ini amat bertekat untuk memurnikan barang setetes budaya Jepang dari penetrasi modernitas yang ditawarkan oleh barat. Terus hidup dengan berkudung kemiskinan memang harus tanggung oleh Tokugawa dan para samurainya, semua ini sekali lagi dilakukan demi sebuah prinsip suci yang telah turun temurun meraka warisi.

Dengan berakhirnya abad 19, pemerintahan Tokugawa mandeg dan korup. Kapal-kapal asing mulai mencoba memasuki Jepang dengan desakan terus-menerus. Kelaparan dan kemiskinan melemahkan dukungan untuk pemerintah. Jepang di masa Edo Tokugawa (1603-1867) bagaikan sebuah telaga di pegunungan, stabil dan menyendiri. Gejolak politik diredam melalui sistem kelas yang ketat, pengaruh asing dibendung dengan kebijakan menutup diri dari dunia luar. Namun dua setengah abad yang tenteram ini akhirnya koyak oleh kedatangan empat kapal perang Amerika yang merapat di Teluk Tokyo pada 1853. Lewat kekuatan militernya, komandan Perry menuntut Jepang membuka pintu bagi Amerika. Dua dekade kemudian berakhirlah masa keshogunan yang telah berlangsung dua ratus tahun lebih itu. Kedatangan Perry memang telah memicu sebuah transformasi besar.

Orang-orang mulai mengkritik keshogunan Tokugawa, masyarakat yang anti pendatang asing berubah pikiran dan mulai berkata bahwa orang Jepang mesti mencoba hidup bersama mereka. Konflik kepentingan yang rumit pun merebak, membenturkan kelompok yang mendukung kebijakan terbuka dengan kelompok yang menghendaki pengusiran orang asing; dan kelompok yang mendukung kaisar dengan yang mendukung shogun. Pertempuran antarfaksi ini berujung dengan Restorasi Meiji yang mengembalikan autoritas politik ke tangan kaisar pada 1868.
Era Meiji

Pada tahun 1868, Pangeran Mutsuhito diangkat menjadi kaisar dan memilih nama Meiji yang artinya “pemerintahan yang tercerahkan”. Kaisar Meiji mengambil alih kekuasaan pemerintah dengan membuka peluang bagi Jepang untuk westernisasi dan industrialisasi. Ia pun kemudian menumbangkan kekuasaan Shogun dan menggantikannya dengan administrasi kerajaan. Dia juga memindahkan ibukota kerajaan dari Kyoto ke Edo (Tokyo) dan melakukan berbagai reformasi. Larangan membawa katana (pedang) di tempat umum merupakan sebuah paraturan paling mencolok dikala itu. Cara berpakaian dan model rambut pun tak luput dari proyek westernisasi. Sebagai mana di ketahui bahwa selain pedang, rambut juga sebagai lambang kehormatan bagi seorang samurai. Tentu saja kaum samurai adalah kelompok yang paling kentara terkena imbas modernitas ini. Mereka-meraka yang tak mau berkiblat kepada barat, lari kehutan-hutan dan gunung-gunung guna malancarkan pemberontakan pada pasukan modern pemerintah.

Pemberontakan Satsuma
Era Meiji mengawali era reformasi dari sistem feodal ke sistem modern. Termasuk didalamnya memodern-kan tentara jepang dengan sistem barat. Sosok kuat di balik reformasi ini adalah Okubo Toshimichi. Dia dan Takamori adalah kawan baik dan sama-sama berasal dari Satsuma. Takamori mendukung proses reformasi sejak dari awal. Tetapi ketika hak-hak istimewa samurai di lupakan, terjadi perang batin, antara loyal terhadap negara di satu pihak dan kaum samurai di pihak lain.

Ketidaksetujuannya dalam mengatasi masalah Korea, membuat Takamori mengundurkan diri dari pemerintahan dan kembali ke Kagoshima. Dia mendirikan sekolah untuk samurai dan para samurai yang tidak puas dengan sistem pemerintahan mulai bergabung. Bujukan dari ‘samurai yang tersisihkan’ ini membawa Takamori memimpin pemberontakan terhadap pemerintah. Peristiwa ini tercatat sebagai “Pemberontakan Satsuma”. Pasukan Takamori kalah, dan mereka mundur kembali keKagoshima.

Dengan bersisa sekitar 300 samurai, mereka bertahan dengan bersembunyi didalam gua-gua di bukit Shiroyama. Ketika jumlah pasukannya menyusut, karena kurangnya pasokan makanan, amunisi dan juga karena kelelahan, Takamori sadar, bahwa dia telah kalah.

Di pagi hari tanggal 24 September 1877, sekelompok kecil samurai yang hanya mempunyai pedang ditangan untuk bertahan, di hujani meriam oleh ribuan tentara pemerintah. Tubuh Takamori dan pengikutnya di ketemukan terpenggal kepalanya. Mereka telah melakukan seppuku atau bunuh diri. Sebuah kematian terhormat yang mengambil tempat tertinggi bagi para samurai sejati.
Pembeerontakan yang berhasil ditumpas pada tanggal 24 September 1877 ini merupakan sebuah pemberontakan yang tercatat sebagai aksi penentangan samurai pada pemerintah pusat yang terakhir tercantum dalam sejarah Jepang.
Di tahun 1889 Jepang membuat Undang-Undang bergaya barat, prinsip yang mengantarkan kepada kesadaran nasional dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi. Serta kepercayaan diri yang tumbuh dalam bangsa ini. Prinsip yang terkandung dalam Undang-undang tahun 1889 inilah yang mampu mengantarkan modernisasi barat dan adat tradisi Jepang dapat berjalan seiring. Maka pengiriman pemuda-pemuda Jepang ke Eropa pun makin digalakkan, mereka berangkat ke ‘benua modernisasi’ tersebut dengan tekat dan semangat seorang ‘samurai.’ Semangat samurai dengan bersenjatakan ‘pedang’ modernisasi pulalah yang telah mengantarkan kemenangan Jepang dalam perang melawan China dan Russia. Kini, ketika sang nichi mengintip di ufuk timur, duniapun serempak berpaling pada era kebangkitan dai Nippon yang telah terbit untuk menyongsong masa depannya.
Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita sebagai mahasiswa yang notabene adalah generasi penerus bangsa ini juga memiliki semangat bak seorang samurai, seperti kawan kita di negeri timur jauh itu? Dua buah pertanyaan singkat, yang tentu saja hanya mampu dijawab oleh hati kita masing-masing.
READ MORE - Restorasi Meiji, Antara tradisi dan modernisasi

Jalur Sutra, Koridor Budaya Timur-Barat

Oleh: Putri Soraya Mansyur. Jalur Sutra adalah nama yang diberikan seorang Jerman bernama von Richthofen pada Abad-18M, untuk jalur darat yang menghubungkan Cina dengan Eropa. Sekalipun baru dibuka resmi pada Abad-3SM, di masa Dinasti Han yang mulai mengirim utusan ke berbagai negara Asia Selatan dan Timur Tengah, namun Jalur Sutra sudah ada jauh sebelumnya. Jalur Sutra terdiri dari banyak jalur yang bercabang-cabang, dan digunakan untuk perdagangan berbagai komoditi selain sutra seperti gading, tanaman, emas. Secara garis besar terdapat tiga jalur, di utara, tengah dan selatan.

Jalur Utara menghubungkan Cina dengan Eropa hingga Laut Mati, melalui Urumqi dan Lembah Fergana. Jalur Tengah menghubungkan Cina dengan Eropa hingga tepian Laut Meditrrannia, melalui Dun-huang, Kocha, Kashgar, menuju Persia. Jalur Selatan menghubungkan Cina dengan Afghanistan, Iran dan India, melalui Dun-huang dan Khotan menuju Bachtra dan Kashmir. Di Cina, Jalur Sutra berujung di Changan atau Xian, ibukota kerajaan, ke arah barat melewati koridor Gansu, menuju Dun-huang di sisi Gurun Taklimakan. Jalur utara mulai dari Dun-huang dan Yu-men Guan, menyeberangi Gurun Gobi menuju Hami (Kumul), lalu menyisir kaki Tian-shan di bagian utara Taklimakan. Setelah oasis Turfan, menuju Urumqi dan Lembah Fergana untuk masuk Eropa hingga Laut Mati. Jalur ini bercabang di Turfan, ke oasis Kucha, menuju Kashgar di kaki Pamirs.

Jalur selatan mulai Dun-huang, melewati Yang Guan, menyusuri sisi selatan Taklimakan, melalui Miran, Hetian (Khotan) dan Shache (Yarkand), menuju utara lalu menuju Kashgar. Masih ada beberapa cabang jalur, salah satunya bercabang dari jalur selatan menuju sisi timur Gurun Taklimakan ke kota Loulan, lalu bergabung dengan jalur utara di Korla. Dari Kashgar yang simpang lalulintas Asia, ada jalur menyeberangi Pamirs menuju Samarkand dan menuju selatan ke Laut Kaspia; atau jalur ke selatan melewati Karakorum menuju India; dan sebuah jalur lain menuju Kuqa, menyeberangi Tian-shan, menuju Laut Kaspia melalui Tashkent

Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina
Legenda Cina memberi gelar Dewi Sutra kepada Putri Hsi-Ling-Shih, istri Kaisar Kuning yang mistis, yang disebut memerintah Cina sekitar tahun 3000SM. Putri Hsi-Ling-Shih dianggap berjasa memperkenalkan ulat sutra dan cara pengembakbiakannya. Pada tahun 1927 ditemukan kepompong ulat sutra dari masa 2600-2300SM di bantaran Sungai Huangho, Propinsi Shanxi, Cina sebelah utara. Di Qianshanyang, Propinsi Zhejiang ditemukan pita, serat sutra, dan perca, dari masa sekitar tahun 2000SM. Di bagian hilir Sungai Yang-tze bahkan ditemukan sebuah cangkir kecil dari gading bermotif-hias ulat sutra, alat tenun, serat sutra dan perca dari masa antara 6000-7000SM.

Pada awalnya sutra hanya boleh digunakan di kalangan istana (raja, kerabat dekat, pejabat tinggi). Di dalam istana, kaisar mengenakan jubah sutra putih, di luar istana kaisar dan permaisurinya mengenakan jubah sutra kuning. Pada Abad-5SM, paling tidak terdapat enam propinsi Cina penghasil sutra. Setiap musim semi, Permaisuri memimpin langsung upacara pembuatan sutra. Kerahasiaan teknik dan proses pembuatan sutra dijaga ketat oleh kerajaan. Barangsiapa membuka rahasia, atau menyelundupkan telur atau kepompong sutra ke luar Cina, akan dihukum mati. Secara bertahap produksi kain sutra menjadi industri dan elemen penting ekonomi Cina, sutra digunakan sebagai instrumen musik, tali pancing, tali busur panah, tali pengikat, dan kertas tulis. Akhirnya orang kebanyakanpun boleh mengenakan pakaian sutra. Pada masa Dinasti Han [206SM-220M] sutra tidak lagi sekedar produk industri atau barang dagangan. Petani membayar pajak dengan beras dan sutra, pegawai menerima gaji dan hadiah sutra.

Perdagangan Sutra
Sutra menjadi komoditi perdagangan internasional Cina yang sangat berharga antara. Perdagangan sutra telah terjadi jauh sebelum Jalur Sutra dibuka resmi pada Abad-3SM. Di desa Deir el Medina dekat Thebes, Lembah Raja-raja, Mesir, situs makam para pekerja raja Mesir, ditemukan mummi seorang wanita berusia antara 30-50 tahun. Mummi tersebut mengenakan sutra. Berdasarkan data anthropologis, metode mummifikasi, keadaan makam dan ‘amino-acid racemization’, mummi tersebut dinyatakan berasal dari sekitar tahun 1070, masa Dinasti Ke-21! [G.Lubec, J. Holaubek, C. Feldl, B. Lubec, E. Strouhal. NATURE, March 4, 1993]. Sebelum temuan ini, tercatat bahwa sutra digunakan di Mesir pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar Abad-3), termasuk Cleopatra.

Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres, Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300 denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi Romawi.

Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan, kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang, sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.

Perdagangan Jalur Sutra
Selama satu milenium berikutnya, produk gelas Jahudi dan kain linen menjadi barang dagang utama yang dipertukarkan dengan sutra dan rempah dari Cina dan India. Kayumanis (cinnamon), cassia (kulit kayu bahan pembuat kayumanis), jade, kamper, dan produk Cina lainnya memiliki pasar yang bagus di Barat. Rujukan terawal dalam naskah tentang produk dari Asia Timur (cinnamon dan cassia), terdapat di Kel30:23: Musa diperintahkan untuk mengambil "rempah-rempah pilihan, mur tetesan limaratus syikal, dan kayu teja (kayumanis) yang harum (kinamon besem) setengah dari itu". Dalam Kel.30:24 disebutkan bahwa Musa diperintahkan untuk mengambil "kayu teja (kayumanis, cassia, kiddah) lima ratus syikal".

Dalam naskah Mishnah, seorang tokoh halakah Rabbi Chiyya bar Abba disebut sebagai salah seorang peniaga Timur-Dekat, yang memperdagangkan tiga barang dagangan utama di sepanjang jalur ke Cina, yaitu: barang-barang dari kaca, rami halus, dan linen.Herodotus (485-425SM) menyatakan bahwa kata Yunani kinnamomon berasal dari Kanaan (3.111). Begitu pula kata yang digunakan dalam Kitab Keluaran untuk cassia, kiddah, muncul dalam bahasa Yunani menjadi Kitto. Kata lain dalam Alkitab kes’iah (Maz45.9), menjadi kata Yunani Kasia. Transkripsi kata Aram ke bahasa Yunani menunjukkan bahwa para pedaganglah yang pertama kali membawa rempah tersebut dari abad-5SM dari Asia Timur ke Kawasan Mediterranean sebagai barang dagangan. Sebuah manuskrip Latin abad-4, Descriptus Orbis, menyebutkan Beth Shean sebagai sebuah kota pemasok kain bagi seluruh dunia. Keunggulan tekstil dan pakaian yang diproduksi kalangan Jahudi Beth Shean juga diakui oleh Kaisar Romawi Diocletian.

Pada tahun 296 Diocletian menerbitkan dekrit yang menetapkan patokan harga dan upah di seluruh kekaisaran Romawi, produk tekstil Beth Sean menduduki tempat teratas. Untuk produk kaca, dekrit itu hanya mendaftar dua jenis saja, yaitu vitri Ijudaici (barang produk kaca Jahudi) dan vitri Alessandrini (barang produk kaca Alexandria). Kaisar Romawi lain, Hadrian, menyatakan bahwa Jahudi adalah produsen kaca Alexandria. Kedua hal ini menyatakan Jahudi adalah produsen kaca kelas dunia di masa Romawi. Aurel Stein menemukan berbagai serpihan kaca kepingan di berbagai situs di sepanjang Jalur Sutra di Kawasan Xinjiang Cina. Stein juga menemukan berbagai jenis naskah yang ditulis pada kertas atau kayu, dalam berbagai bahasa termasuk Aram.

Referensi:
Marc Aurel Stein, Serindia, Oxford, 1921, 64, plate 37;
Central Asian Relics of China's Ancient Silk Route, Hirth Anniversary Vol. 1921, 368, 374; "A Journal of Geographical and Archaeological Exploration in Chinese Turkestan,"
The Geographical Journal, 1902; Sand-buried Ruins of Khotan, London, 1903; On Ancient Central Asian Tracks, 1933
John K Fairbank, Edwin O Reischauer, dan albert M Craig, East Asia, Tradition and Tranformation, Printeed in Great Britain by William Clower and sons, Limited, London, first published in Great Britain, 1973
READ MORE - Jalur Sutra, Koridor Budaya Timur-Barat

Djamalludin Adinegoro

Oleh: Ibnu Azis. Merupakan suatu anugerah yang tak terhingga jika insan wartawan tanah air diganjar seorang Adinegoro. Apabila di kalangan dunia jurnalistik nusantara ada berbagai bintang, maka Djamaluddin Adinegoro adalah bintang yang paling bersinar. Beliau merupakan pelopor kaum jurnalistik Indonesia yang belajar dan memahami ilmu kewartawanan langsung dari sumbernya (Jerman). Di era kolonisasi Belanda, masihlah langka dan jarang sekali jumlah insan press yang berani menuntut ilmu jurnalistik secara formal, mengingat pada tahun 25-an di nusantara―yang masih menjadi tanah jajahan Belanda―masih belum ada sekolah sejenis yang sepadan.

Pemerintah Belanda mendirikan sekolah untuk kaum peribumi dalam bayang-bayang Tri―Tunggal Politik Etis, peningkatan intelektual hanya diperuntukkan agar mereka―kaum penjajah―mendapatkan tenaga-tenaga murah, trampil dengan sedikit pengetahuan bisa mampu untuk mengelola bersama tanah jajahan. Namun perkembangan pula yang mendorong putar-putri bangsa untuk berlomba-lomba dan maju dalam mengenyam ilmu pengetahuan setingi-tinginya. Dari tahun ke tahun, semakin banyak mahasiswa tanah air yang mengenyam pendidikan barat―Belanda, dengan menelurkan Husein Djajadiningrat sebagai Doktor pertama Indonesia yang mampu mempertahankan disertasinya mengenai Sejarah Banten.

Jasa dan sumbangan Adinegoro bagi nusantara tidaklah sedikit. Lebih dari setengah hidup Adinegoro didarmabaktikan untuk keperluan jurnalistik. Di samping itu, beliau juga banyak menggeluti diri dalam bidang pemetaan, suatu bidang yang sangat langka ditekuni oleh orang Indonesia. Adinegoro bukanlah seorang orator, tokoh yang pandai membakar semangat bangsa dengan lihainya berpidato, atau mampu mempengaruhi massa dengan suara yang menggelegar, seperti saudaranya Muhamad Yamin. Namanya juga tidak pernah tersiar sebagai seorang politikus yang mahir bersilat lidah dalam mempertahankan pendirian. Beliau lebih dikenal sebagai wartawan, pengarang, ahli pikir yang cemerlang, ahli pembuat laporan perjalanan, tukang menganalisa politik luar dan dalam negeri, dan tulisannya mampu mendapatkan perhatian sendiri di hati pembacanya. Tidak sedikit kaum muda di sekitar tahun 30-an yang secara diam-diam mengagumi serta meneladani dan mengikuti jejak langkah Djamaluddin dan akhirnya mampu duduk di kursi penting kalangan jagat wartawan Indonesia.

Adinegoro lahir pada 1904 di Talawi, Sumatra Barat dengan nama Djamaluddin. Karena ayahnya adalah seorang Resident di Indrapura maka beliau berhak masuk ke ELS (1911) kemudian HIS dan atas dorongan keluarga Adinegoro dikirim ke Jawa (Batavia) untuk masuk ke STOVIA. 1926, Adinegoro pergi melawat ke barat. Selama empat tahun beliau menimba ilmu, bekerja serabutan dan meninjau berbagai kawasan di Eropa―Prancis, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa daerah Balkan―, setelah memikirkan dengan matang tindakannya tersebut padahal tinggal dua tahun gelar doternya untuk diselesaikan.

Setelah kembali ke tanah air, 1931 Adinegoro bekerja di harian Panji Pustaka (Jakarta) kemudian pindah ke Pustaka Deli (Medan). Pada masa pendududkan Jepang, 1942, Adinegoro dipercaya memimpin harian Sumatra dengan titel Jepang, Sumatra Shimbun. Dan ketika masa kemerdekaan, Adinegoro dipercaya sebagai wakil pemerintahan RI urusan penerangan di Sumatra. Di tahun 1947, Adinegoro bersama Soepomo, H. B. Jassin mendirikan Yayasan Dharma; memajukan Indonesia dengan penerbitan, dengan Mimbar Indonesia sebagai jagoannya. Di waktu yang bersamaan, Adinegoro jatuh sakit. Karena berbagai pertimbangan akhirnya beliau beserta keluarga memutuskan pindah ke Jakarta.

Adinegoro juga diberi kesempatan meliput KMB, Den Hag, 1949. Dan beliau juga berkesempatan mendirikan Djambatan, sebagai penghubung dua pihak yang berseteru―Indonesia dan Belanda―dengan saling pengertian melalui buku. 1951 Adinegoro diminta untuk memimpin Aneta. Di tahun 1956 beliau berhasil menasionalisasikan Aneta dengan berubah nama menjadi Persbiro Indonesia. Adinegoro juga berkesempatan melawat ke Moskow bersama rombongan Presiden Soekarno, meliput sidang PBB soal Irian Barat di Amerika 1957 dan ketika Persbiro Indonesia digabungkan dengan Antara, Adinegoro diberi posisi sebagai dewan pengawas dan anggota dewan pemimpin (1963).

Nah, pada masa inilah Adinegoro mulai mengalami masa-masa kemunduran. Namanya mulai tenggelam. Dalam posisinya, Adinegoro tidak pernah dihargai oleh dewan pimpinan Antara. Adinegoro yang selalu menduduki posisi pertama di Perwata Deli, Sumotra Shimbun, Mimbar Indonesia, Kedaulatan Rakyat, tidak pernah diajak berembug untuk membantu memutuskan masalah. Adinegoro lebih banyak mencurahkan masalah hatinya pada sahabat dan juga anak didiknya, Hasrun Angkat Sutan. Puncak rasa frustasi Adinegoro takala beliau tidak dimintai pendapat sebagai dewan penyeleksi, ketika pemimpin Antara hendak mengirim beberapa tenaga ahlinya ke barat. Astrid, salah satu putri Adinegoro sangat begitu terjerembab ketika melihat ayahnya hanya diberikan ruangan kecil dengan penerangan yang cukup, dan ditempatkan di bagian belakang kantor dekat kamar mandi dan mesin cetak.

Adinegoro yang melihat ulah putrinya marah besar dan memintanya pulang serta tidak menceritakan hal tersebut pada siapapun. Rasa frustasi berat dan tubuh yang telah dimakan usia, membuat Adinegoro jatuh sakit-sakitan. Tubuhnya tak lagi kuat seperti 30 tahun yang lalu, yang berani berpetualang hingga ke negeri Eropa. Dan pada 1967, Adinegoro sebagaimana Soebagijo I. N. menulis sebagai Pelopor Jurnalistik Indonesia menghembuskan nafas terakhirnya dalam umur yang relatif muda 63 tahun. Bukan rumah megah yang beliau tinggalkan. Bukan pula mobil mewah serta harta melimpah yang ia wariskan, namun keluarganya mendapatkan harta yang tidak ternilai berupa ribuan buku yang berisi aneka ragam ilmu dan ditulis dalam aneka ragam bahasa. Buku filsafat, ilmu teosofi, ilmu publistik, kebudayaan, politik, kesussastraan, geologi, geografi dan lain-lainnya yang kesemuanya ditulis dalam bahasa Belanda, Inggris, Prancis dan terutama Jerman.

Pemerintah tidak melupakan jasa-jasanya. Pada tahun 1974 beliau dianugerahi gelar Perintis Press Indonesia. Dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai badan tertinggi insan press nasional, menyediakan tanda penghargaan tertinggi bagi karya jurnalistik terbaik setiap tahunnya. Tanda penghargaan tersebut sangat berkaitan dengan Adinegoro yang memang sengaja disejajarkan dengan nama nestor jurnalis Indonesia itu. Ya benar, dalam tiap tahun, karya terbaik insan jurnalistik nasional yang terpilih, akan diganjar dengan Hadiah Adinegoro.
READ MORE - Djamalludin Adinegoro

Resensi: Jepang, dari Zaman batu sampai Maju

Oleh: Dwi Agus Hariadi. Sebagai orang yang berkebangsaan, tentunya kita sangat menghargai sejarah peradapan bangsa kita yang telah dibangun oleh nenek moyang berabad-abad lalu. Terhadap negara kita, Indonesia, rasa cinta tanah air telah tertanam dalam sehingga kita telah berada dalam kehidupan yang meredeka dan maju seperti sekarang ini. Membicarakan perjalanan sejarah bangsa kita tidak akan lepas daripada kerterkaitanya dengan bangsa lain yaitu Jepang. Revolusi Indonesia tahun 1945 terjadi karena terputusnya hubungan kita dengan Jepang, sebagai negara terjajah dan penjajah. Yang sepasti sebagai bengsa Indonesia, sedikit banyak kita pasti sudah mengenal bagaimana bangsa Jepang dan sejarahnya.

Pada awal peradapanya, seperti dalam sejarah kuno negara-negara lainya, Jepang juga mengalami apa yang dinamakan dengan zaman batu. Telah lama diakui secara umum bahwa alat-alat batu yang mirip dengan alat-alat serupa dari zaman Neolithikum di Eropa terdapat di Jepang, dan bahwa tidak terdapat peninggalan zaman dari zaman Palaeolhitikum. Akan tetapi sekitar akhir tahun 1940-an, penyelidikaan arkeologi mulai menemukan bukti adanya alat-alat Palaeolithikum di Jepang. Kebudayaan pra tembikar ini diikuti oleh zaman kebudayaan Jomon. Jomon artinya (corak hias temali) ialah sebutan untuk corak-corak hias berbentuk tali rami yang terlihat pada permukaan alat-alat tembikar yang dibuat pada zaman ini, dan penggunaan tembikar yang meluas dapat dianggap sebagai ciri khas dari zaman ini.

Pekerjaan utama bangsa ini ialah berburu dan memancing, dan mereka menggembara sepanjang ladang dan gunung untuk mencari mangsa. Lama kelamaan mereka mulai menetap dan pemukiman mereka juga menjadi semakin luas. Setiap pemukiman diperkirakan terdiri atas anggota dari satu keluarga, dan pada tahap ini nampaknya belum terjadi organisasi politik. Tetapi perdagangan dengan tempat-tempat yang jauh rupanya telah berkembang. Meskipun kebudayaan Jomon meluas ke seluruh Jepang, perkembangan yang paling pesat terjadi didaerah antara Honshu dan di daerah pegunungan tengah. Selama perkembangan kebudayaan Jomon yang lamban itu dikepulauan Jepang, negara-negara lain di dunia telah menghaslkan kebudayaan yang gemilang.

Tak lama sebelum penyebaran kekuasaan Cina di Korea, pada abad ketiga dan kedua S.M, alat-alat tembikar Jomon di Jepang mulai diganti denganm alat-alat tembikar lain disalah satu daerah bagian Utara Kyushu. Alat tembikar ini dikenal ini dikenal sebagai Yayoi, yaitu nama daerah di mana alat-alat itu ditemukan pertama kalinya. Kebudayaan Yayoi dikenal meluas mulai abad ketiga atau kedua S.M hingga abad kedua atau ketiga M. Perlahan-lahan ia menyebar ke Timur dari Kyushu Utara ke seluruh Jepang ke Honshu bagian timur laut. Alat-alat batu masih digunakan, tetapi munculnya alat-alat besi dan tembaga merupakan ciri khas dari zaman itu.

Kebudayaan Yayoi erat hubunganya denagn pertanian. Yang paling mengagumkan ialah cara menanam padi di sawah yang sebenarnya merupakan teknik pertanian daerah tropis yang cukup sulit tetapi kemudian menjadi umum di Jepang dan bahkan diterapkan di daerah timur laut Honshu yang cukup dingin. Semenjak itu beras menjadi bahan makanan utama bagi orang-orang Jepang yang menjadi penopang utama ekonomi Jepang.

Menurut sejarah Cina, sekitar abad pertama Masehi terdapat kurang lebih seratus negara begian di Jepang. Salah satunya pada tahun 57 M dikuasai seorang raja yang kedudukanya ddiperkuat oleh pemberian tanda pengahargaan oleh kaisar Cina. Sebuah segel emas yang ditemukandalam penggalian di Shiganishima di bagian utara Kyushu pada tahun 1784 dan yang dianggap sebagai tanda penghargaan itu, merupakan bukti konkrit akan adanya pertukaran negara-negara kecil di Kyushu dengan kerajaan Cina.

Menurut Nihon Shoki, sejarah tertulis Jepang yang paling awal, kedudukan kaisar sesudah Jimmu dipangku oleh keturunya secara turun-temurun. Mereka memerintah dari pusat kekaisaran yang didirikan di propinsi Yamato. Menurut sumber yang sama, kira-kira pada waktu kaisar kesepuluh, sujin, sistem politik pemerintahan telah diatur, sedangkan sekitar waktu pemerintahan kaisar kelimabelas, ojin, telah diadakan hubungan erat dengan Korea, dan semakin banyak orang Korea yang menjadi warga Jepang.

Wangsa Yamato mencapai puncak kekuaasaanya sekitar zaman kaisar Nintoku (bagian pertama abad kelima), dan setelah itu mulai surut. Di korea, kekuasaan wangsa Silla meningkat sampai ke titik dimana ia sanggup menekan Mimana. Juga waangsa Paekche tururt mengkikis kedudukan Mimana dengan cara-cara diplomasi. Di dalam negeri serangkaian petikaian dalam keluarga kerajaan mengenai hak menduduki tahta semakin merusak wibawa kaisar Lima orang Kaisar berturut-turut, mulai dengan NIntoku, mengadakan hubungan dengan dinasti Cina selatan, sung, Chin, dan Liang, dalam usahanya untuk memperkuat kedudukanya serta keharuman namanya sendiri, tetapi mereka tidak berahsil mencapai apa yang mereka harapkan.

Pemerintahan oleh mangkubumi amat bergantung pada terpeliharanya hubungan keluarga dengan kaisar yang sedang berkuasa. Sejak zaman Kaisar Gosanjo yang telah bebas dari dari hubungan seperti itu, sistem itu mulai memperlihatkan tanda-tanda surut pada akhir abad kesebelas. Putra kaisaar Gosanjo, kaisar, Shirakawa, memerintah sendiri tanpa rasa takut akan sessho ata kampaku, dan setelah ia turun dari tahta ia terus mengendalikan pemerintahan oleh kaisar yang sebenarnya telah masuk disebut insei (pemerintahan dari In).

Semerintahan itu para samurai mengumpulkan kekuatan di propinsi dan juga menetap di ibukota, di mana mereka mengadakan hubungan dengan kaum bangsawan. Keluarga samurai yang terkuat ialah keluarga Minamoto daan Taira, yang keduanya merupakan cabang keluarga kekaisaran. Keduanya sudah sering menunjukan kemampuanya dalam menumpas pemberontakan di wilayahnya. Kemudian lahir sistem bakufu, yaitu sebuah sistem pemerintahan militer. Sementara itu permulaan pemerintahan shogun dapat dianggap sebagai permulaan sisitem feodal.

Sesudah peristiwa Jokyo, bakufu mulai campur tangan dalam urusan penggantian kaisar, dan terjadilah kebiasaan untuk berkonsultasi dengan bakufu dalam hal penggantian tersebut. Lebih dari itu, setelah zaman pemerintahan kaisar gosage garis keturunan kaisar pecah dua dan dua orang putra kaisar menjadi bernama Gofukakusa dan Kameyama.

Sememtara Jepang tenggelam dalam tidurnya yang panjang dalam keterasingan, evolusi bentuyk negara modern dan persatuan nasional sedang berlangsung di bagian barat dunia. Lebih dari itu, perkembangan kapitalisme mengakibatkan revolusi industri yang menyebabkan bangsa barat melihat keluar negeri untuk mencari pasaran bagi hasil industrinya dan untuk sunber-sumber bahan baku baru. Dengan cara ini tangan dunia barat mulai merenntang Jepang. Bangsa barat pertama yang mengetuk pintu Jepang adalah Rusia. Pada tahun 1792 Rusia telah meluaskan wilayahnya hingga ke Siberia.

Sejak Kaisar Meiji diganti oleh Kaisar Taisho, dunia memasuki masa pergolakan yang hebat. Pertama-tama, gerakan revolusioner timbul di negara tetangga Jepang yaitu Cina, dinasti Ching digulingkan dan republik dibentuk (1912). Eropa, Triple Alliance, Jerman, Austria dan Italia dan Triple Ettente antara Inggris, Prancis, dan Rusia dan sekutu-sekutunya. Konflik segera berkembang dan menjadi perang dinia.

Setelah memerintah selama lima belas tahun kaisar Taisho meninggal pada tahun 1926 dan diganti oleh kaisar yang amsih memerintah hingga sekarang ini. Zaman ini disebut zaman Showa. Semenjak awal zaman ini Jepang diganggu berbagai kesulitan, kelesuan ekonomi dan mandegnya hubungan diplomatik yang merupakan sebuah lingkaran setan.

Akhir Perang Dunia II melihat Jepang penuh ditebari puing-puing kebinasaan. Dari kehancuran peperangan hingga bangunya Jepang kembali sebagai satu kekuatan ekonomi raksasa dunia, yang malahan berhasil menandingi baik Amerika maupun Rusia, daan jauh meninggalkan negara industri tua seperti Inggris dan Prancis adalah suatu kisah yang mempesona seluruh dunia. Semua apa yang telah hilang dari tanganya dalam peperangan dunia yang lalu, telah direbut kembali berlipayt ganda oleh Jepang dengan kekuatan Ekonominya.

Jika orang Jepang dapat memahami, bahwa dalam dunia yang berbagi ragam ini bangsa-bangsa lain juga berhak untuk hidup dan berkembang, dan setiap bangsa harus menyesuaikan kepentingan masing-masing agar tercipta masyarakat manusia yang hidup berdampingan dalam perdamaian dan persahabatan, maka Jepang akan dapat menyumbangkan banyak pada perkembangan masyarakat demikian. Akan teatpi jika bangsa Jepang tidak mengganti nilai-nilai kebudayaanya yang agresif daan yang mengutamakan senantiasa kepentingan negerinya sendiri.

Kita wajib mempelajari Jepang dengan sebaik-baiknya, karema negeri ini dengan segala rupa ciri-cirinya yang menimbulkan was-was kita, atau kecurigaan dan ketakutan kita, juga mengandung ciri-ciri lain yang dapat kita pelajari dan menarik manfaat darinya untuk perkembangan bangsa kita sendiri.

Buku sejarah Jepang karangan Taro Sakamoto ini merupakan buku yang baik untuk mengenal sejarah Jepang terutama sejarah pra modern Jepang. Tetapi pengarangnya kelihatan amat kurang kritis menanggapi berbagai tindakan agresi Jepang terhadap Korea dan Cina, dan kemudian ke Asia Tenggara yang melontarkan Asia dan Pasifik ke dalam kancah Perang Dunia II. Kita berharap buku-buku lain mengenai berbagai segi kehidupan Jepang akan pula dapat diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Pada akhirnya maka pembaca Indonesia mendapat gambaran yang lebih seimbang mengenai Jepang yang sebenarnya.

Judul Buku : Jepang:Dulu dan Sekarang
Pengarang : Taro Sakamoto
Penerbit : Gadjah Mada University Press
Tahun Terbit : 1992
Cetakan : ke-3
Tebal Buku : vii, 83 hal: 21 cm
READ MORE - Resensi: Jepang, dari Zaman batu sampai Maju